Application of TCP/IP
The mastering of internet and all of its application is undoubtedly a MUST to have in order to master the world of science itself. The spread of information have been reaching even the speed of light and internet is the key to grab such information.
What exactly is TCP/IP?
TCP/IP stands for Transmission Control Protocol/Internet Protocol. In the world of computer data communication, protocol is a kind of language so that computers can communicate to each other.Well, this one (TCP/IP) is a group of protocol regulating the communication of computer data in the internet… and it shapes kind of a network. The basic concept of TCP/IP network is like connecting two or more computers running various application and make them able to communicate to each other through various telecommunication path, with the help of IP as its ‘glue’.
Types of TCP/IP
1. Internet Protocol
Is a protocol determining routes to deliver the information packet to its destination from the sender to the receiver.
2. TCP
A protocol which task is to make sure that datum are delivered after’ hand shake’(agreement) between sender and receiver. The main feature of this protocol is its ability to request back any information it receives if it receives failure datum, to make sure whether the datum received are the right ones.
3. UDP(User Datagram Protocol)
The provider protocol of ‘connectionless connection’… the receiver using this kind of protocol need not to recheck wheteher the received datum are failures or not.
Nonamirzzu Fans Club!
Wa ha ha ternyata adek gue punya fans club sendiri padahal dia nggak jadi selebriti sama sekali(coba kunjungi situssurga.blogspot.com)
Di sana bahkan nama julukan gue sebagai kakaknya yang ditahbiskan dengan kreatifnya oleh papa, mettotmelotot, pun, jadi link ke salah satu website dengan pemilik yang sama pula. Wah wah, papa bisa minta royalti nih:p
I’m so lucky that my Dad is not that materialistic…
Hikmah yang bisa diambil dari nonamirzzufansclub ini adalah: kalau berbuat sesuatu, jangan tangggung-tanggung… berikan yang terbaik sekalian! Termasuk nge-blog, suatu kegiatan sederhana yang ternyata mengundang fans! ha ha ha… lumayan kan kalau ternyata blog kita menarik terus banyak dikunjungi, siapa tahu kalau kita ng-iklan lewat blog kita, barang dagangan kita banyak yang beli…
(jadi teringat saran-saran sakti pak mikra, ha ha ha)
Dalam Masa Hibernasi…
(Dalam masa hibernasi, yang dilakukan binatang-binatang beruntung itu adalah makan sebanyak-banyaknya dan tidur. Err… seperti mencerminkan sesuatu yahh? he he he…
Masa hibernasi gue sebagai seorang manusia di kampus ini, seharusnya bisa terjadi pada waktu liburan 3 bulan itu, yang mana kayanya ga bakal lagi gue rasakan dengan penuh kebebasan. Ihiks. Waktunya terlalu sempit buat gue yang lemot ini jika disia-siakan hanya untuk sekedar hibernasi. Bisa-bisa gue jadi orang yang terbuang. Hmm… bagaimana kalo diisi dengan backpacking saja? hi hi hi…)
Sejujurnya, impian terbesar gue di dunia ini adalah bisa hidup mandiri dengan santai. Gue pengen banget bisa jadi penulis yang sukses. Kerjanya di depan laptop, mengkhayal, ga perlu keluar rumah, dapat duit pula.
Tapi gue pingin bikin tulisan yang nggak biasa. Makanya untuk itu, gue butuh banyaak ilmu. Makanya gue ngotot mau kuliah sampai selesai. Dan di jurusan ini pula. Kalau bisa setinggi-tingginya. Gue percaya bahwa ilmu yang gue dapat dari bangku kuliah gue yang sekarang ini adalah ilmu yang cantik, ilmu yang seharusnya dicintai setiap orang. Ilmu yang menjadi dasar bagi perkembangan kesejahteraan umat manusia. Seandainya saja gue bisa berbagi ilmu ini dengan sebanyak2nya orang, I will. Makanya gue akan berusaha memperkenalkannya semenarik mungkin, se-pop mungkin, biar makin banyak orang tertarik pada bidang ini. Suatu hari nanti.
(tenggelam dalam deep thoughts tentang mimpi-mimpi semacam itu)
I dream of this sincere, free world
Where I do not have to be worry about
physical needs of all sort
Remember when he said this quote
‘Does He wash His hands clean off these?’
I disagree
He always there for me,
Although somehow invisibly that I cry outloud
(and curse, sometimes)
I hate myself for haven’t been able to push aside my physical needs that I can’t teach for free
Money talks
My stomach aches
My heart ripped
When I didn’t get tangible effect for my deed(s)
Oh TRK… Oh Mekinoki…
Headline: Emergency! Guideance needed…
Jadi hari ini gue merasa flat banget. Nggak lain nggak bukan dikarenakan nilai-nilai gue yang well… dibilang ancur banget, iyee kalii yee… tapi bagaimanapun tetap terasa agak melegakan.
Dari * mata kuliah, gue berhasil lulus * buah( he he he biarpun ini blog pribadi tetap saja akan gue rahasiakan…), tapi yang paling bikin nyesek tuh mekinoki ini… sedihnya, padahal gue cuma butuh 3 poin lagi untuk selamat… tapi ternyata takdir berkata lain.
Terus tadi siang gue berkonsultasi pada Pak Pepen, dan beliau ketawa-ketawa aja mendengar pandangan-pandanganku yang aneh tentang bagaimana caranya menjalani tahun-tahun kuliah ini. Well, somehow saya masih percaya keajaiban, Pak, ha ha ha:) peace…
Yang jelas gue pengen ambil FisStat semester ini!
… Tapi gue juga akan shalat Tahajud dulu, minta petunjuk dari Allah SWT gue mestinya gimana menghadapi semester kali ini; berapakah sks yang harus gue ambil, dan sebagainya…
…
(shock sendiri melihat bahwa diri ini tampaknya makin absurd aja padahal sudah masuk fisika major yang notabene pakai logika)
Akh, hidup…!
Dalam Kebimbangan…
Yang namanya hidup, pasti ada resikonya.
Jika kita memang ingin yang terbaik, biasanya resikonya juga besar…
…
Baiklah,
sudah diputuskan…
memang sebaiknya dia didorong ke dunia yang lebih besar saja…
5 Things About Name I Figure Out in 20 Years
1. To never give a name ‘Bryan’ or ‘Brian’ or anything sounds such that to my descendant… it’s far too common in US. Proof: at least I met THREE people named ‘Bryan’ or sounds such during my 6 months stay in US. I envy them to have such an indifferency to still having that name… in the end, it turns out that all Bryans are handsome. But still, it’s far too common!
2. To avoid using Arabish names upon my descendant’s names… they’ll get stuck even just to process a Schengen visa. I don’t mean it to be sceptical. The fact is there. The most important thing is that I’m proud to be a moslem.
3. To determine that my children’s names consist of ONLY 2 words. Advantage: if they are about to live in Indonesia, they need not to be confused whether there will be enough space to write it down their university admission test answer sheet.
4. To finally recognize ‘kampungan’ calls in Western culture… ‘Elmer’ is one of them.
5. To start my son or daughter’s name with A. With the hope that he or she will always be number one in doing noble deeds. Besides, my God’s name starts with A as well.
A Theoretical Day
Hari ini gue merasa produktif sekali. Yap, gue berhasil menyelesaikan membaca bab 4 Linear Algebra Done Right-nya Axler, dan sebuah paper tentang String Theory Landscape… whew, it was exhausting but interesting! Apalagi membahasnya bersama si uda, tentu saja SANGAT menyenangkan. Gue mulai mempertimbangkan untuk mengurusi TA di bidang ini dan menemui Herr Bob supaya gue bisa mengambil mata kuliah Studi Mandiri Terpantau tentang bidang ini juga… pasti asyik.
Gue juga baru saja mendapat buku Electrodynamics dari uda dan berniat mulai membacanya malam ini. Sebetulnya banyaak banget hal lain yang mau gue kerjakan, yahh membaca bab 5 si Linear Algebra tadi misalnya, tapi yahh ga tahulah ntar kuat nggak mata ini ngebuka… sampai jam segini aja gue masih berkutat dengan facebook, hi hi hi.
Semester baru di depan mata, gue merasa seperti seorang Elizabeth Allen yang akan memulai masa2 sekolahnya di Whyteleaf: bergairah! No wonder, asal tahu saja yah, sedari kecil gue merasa bahwa memang belajar adalah passion gue. Gue teringat sama Sarah, ibu angkat gue waktu di Amrik, beliau juga hobi banget sekolah. Gue merasa sangat beruntung bisa hidup dalam lingkungan-lingkungan seperti ini… semangat akademis sangat terasa, dan lagi yang gue pelajari adalah sains, fisika pula… gue merasa sangat terberkati:). Gue punya murid, yahh meskipun taraf ngajar gue baru sampai level SMP, gue bercita-cita untuk bisa membagi ilmu gue dengan orang lain… ya Allah, sampaikanlah cita-citaku ini untuk bisa sekolah setinggi-tingginya!
Pecah Telor
Ha ha ha pecah telor… akhirnya hari ini terposting juga komentar ilmiah pertama gue di milis fisika Indonesia! Senang juga rasanya… berasa ilmiah gitu:p
Begini nihh bunyinya…
“From: myquantum07 <myquantum07@ yahoo.com>(ini temen gue, si yudi, yang nanya)
To: fisika_indonesia@ yahoogroups. com
Sent: Saturday, January 10, 2009 9:24:52 PM
Subject: [FISIKA] APA YANG TERJADI ketika hujan turun ?
> to fisika_ers
> permisi Mas, Mbak… saya mau nanya…
kenapa pada saat turun hujan udara biasanya terasa panas ?
Bagaimana dengan tekanan dan kadar uap nya?????
> Tolong ya…
> Makasih.
Jawab gue…
hi yudi! ternyata kita ketemu di sini, ya mwha ha ha
sepengetahuan
meta, secara singkat pak indra noviandri pernah menjelaskannya waktu kita tpb. Meta coba terangkan seingat meta aja ya(kimia meta nggak jago2 amat, mungkin ada yang bisa bantu lebih detil penjelasannya)
jadi,
tahu kan kalo di alam ini ada yang namanya sistem entropi, atau derajat ketidakteraturan di alam semesta. Semakin besar entropinya, semakin tidak teratur suatu sistem. Nah, proses kondensasi awan, ternyata adalah proses eksoterm(melepas panas), di mana entropinyamengecil(sehingga awan semakin solid, semakin padat, semakin teratur).
Panas yang kita rasakan di sekitar kita itu adalah panas yang
dilepaskan awan ketika dia memadat.
kalo ga salah sih gitu yud… punteun, amatir banget penjelasannya. “
Pengalaman pertama mungkin memang yang paling mengesankan. Gue masih ingat saat pertama kali otak gue bisa mencerna bahwa gue dimarahin mama habis-habisan. Saat itu gue ketahuan bohong dengan bilang bahwa gue nggak jajan sembarangan. Tapi mama berhasil mengetahui kalo gue bohong, dan efeknya manjur banget: gue nggak pernah berani lagi bohong sama mama sejak saat itu.
Atau pengalaman pertama gue saat naik pesawat sama papa. Wuaa rasanya takjub banget melihat pemandangan awan dan bangunan2 kecil di bawah! Sensasi itu diperparah dengan kenyataan bahwa mbak pramugarinya cantik2 dan makanan di pesawat G***** jaman dulu itu memang masih yang terenak di dunia menurut ensiklopedi otak gue yang masih minim jam terbang dengan berbagai maskapai penerbangan.
Pengalaman pertama gue nyontek berlangsung dengan lancar dan aman2 saja… ha ha ha emang dari kecil gue dah bakat nyontek kali ya… atau wajah gue yang polos menggemaskan sangat itu menjadikan ibu guru pengawas tidak tega menegur dan mau aja memberi gue nilai enam koma enam di ulangan matematik waktu itu(kelas satu SD).
Cinta pertama gue? Ah rahasia dong…
Cahaya di Balik Jendela
Apa yang membuat tulisan-tulisan Dewi Lestari begitu digemari?
Mengapa tulisannya Ninit Yunita bisa sukses padahal biasa2 aja?
Dan mengapa gue tetap membenci tulisan2 gue sendiri walaupun karakternya semeledak2 Adhitya Mulya?
Cahaya di balik jendela yang samar2 tertutup oleh tirai, mungkin tak semua orang akan berpendapat sama tentang bagaimana cara memandangnya.
Ada yang melihat bayangan hitam di baliknya- cahaya putih yang seharusnya menerangi ruangan tak dipedulikan, dibiarkan meremangi ruangan- sengaja pula mungkin, karena dia lebih suka suasana seperti itu.
Yang tidak baik adalah membiarkan rasa malas itu menguasai… jika memang kita bisa melihat lebih jelas ruangan itu dalam keterangan daripada dalam keremangan, mengapa malas untuk sekedar menyibak tirai dan membiarkan cahaya itu masuk?
Jika memang kita bisa melihat pemandangan yang indah di luar sana sekaligus menghirup udara nyata di luar jendela, mengapa enggan untuk sekedar menyibak tirainya dan membiarkan cahaya itu masuk?
Dalam menulis, gue rasa, kita perlu mencintai kehidupan… we need to celebrate the festive life, dengan niat berbagi ide kita dengan semua orang, tentang kehidupan ini. Bagaimana kita bisa menertawakan kegetiran yang kita alami ala Adhitya Mulya. Bagaimana kita bisa menikmati sains fisika yang rumit dengan rasa pop seperti Dewi Lestari(hi hi hi ini mah penyemangat untuk para mahasiswa sains:p). Bagaimana kita bisa dengan sabar menuliskan bab demi bab episode seorang wanita yang tak kunjung mempunyai anak dan akhirnya mendapati suaminya mandul seperti Ninit Yunita.
Dari Dewi Lestari, saya merasakan sensasi spiritual yang luar biasa.
Dari novel-novel Adhitya Mulya, saya merasakan semangat untuk survive yang hebat, bercampur dengan perasaan terhibur dengan komedi sarkas yang asyik.
Dari Ninit Yunita, saya berpikir betapa sederhananya selera baca masyarakat Indonesia, sehingga novelnya bisa laku keras. Namun saya akui, pesan moral di dalamnya tidak biasa. Dan saya jadi pede untuk mulai menulis hal-hal sederhana karena pasti di Indonesia ini ada yang mau baca.
Karya-karya itu digemari pembaca karena mereka merayakan kehidupan. Penulis-penulisnya mencintai kehidupan dan bersemangat menjalaninya, sehingga semangat itu tertular pada para pembaca. Sungguh suatu proses propagasi yang menarik untuk dirasakan bersama. Menarik, mempesona, menginspirasi.
Sehingga gue berjanji pada diri sendiri untuk lebih mencintai kehidupan ini.
Lebih banyak bersyukur, sehingga punya kekuatan untuk menyibak tirai itu. Merasakan hangatnya cahaya dari baliknya. Menyadari dan mengagumi keindahan pemandangan di luar sangkar gue, meskipun gue hanya bisa memandang saja dari dalam, belum bisa berbuat banyak keluar. Menyadari betapa cantik ruangan tempat gue tinggal bila dilihat dengan keterangan cahaya, melihat dengan jelas manfaatnya bahwa kuman2 pun bisa mati otomatis saat terkena radiasinya dan…
menggapai ketenaran itu, glory itu… saat gue sudah bisa berbagi tentang hidup dengan hati yang jernih bersama para pembaca gue.
Suatu hari nanti. Pasti.
No Lunch Is Free
Oh, well, sumber kebahagiaan gue memang nilai, nilai dan nilai. It’s pathetic, I know, tapi memang begitulah kenyataan yang sering gue alamin. Hu… sedihnya. Tapi gue juga selalu berusaha untuk memutar cara berpikir gue sehingga that fountain of happiness only sources from Allah SWT, amin. Ya Allah, kuatkanlah!
Aanywaay… ga terasa sekarang sudah mau akhir semester tiga lagi. Rasanya baru kemarin aja gue menginjakkan kaki di kampus, eh ga terasa udah hampir 2 tahun gue di sini! My God, itu artinya gue cuma punya lebih kurang 24 bulan untuk memikirkan solusi umum(emangnya PDE…) dari the most nightmare (ha ha ha berlebihan) so far… TA gue!
Yah seperti kita tahu, sodara2 sekalian… dari sekian banyak pilihan KK yang cantik-cantik itu(ada 5), masa masih bingung juga untuk sekedar memilih?? Well… tapi memang itulah yang terjadi sebenarnya dalam diri seorang Metadeklug… badai dilematis pemilihan KK, yang akan menentukan kelulusan dirinya nanti.
(Kelulusan. Oh, cantiknya bayangan diri dalam toga hitam itu, dengan menerima ijazah sarjana dari sabuga!)
Masalahnya, kecantikan dari masing-masing KK itu ternodai oleh probabilitas bernilai 1 (artinya: pasti terjadi:p) yang bernama… scwirigkeitundfaulkeit. Memilih itu gampang. Yang susah adalah memantapkan hati untuk konsisten berjuang di dalamnya. Yang lebih sulit lagi adalah mencari idenya. Penelitian apa yang akan gue lakukan. Lalu, glek, menemukan metodenya. Gue jadi merasa sangat, sangat bodoh dan tidak berilmu sekali. Yah, meskipun perasaan ini adalah tanda-tanda dari kerendahan hati seorang yang brilian, gue tetap memandangnya secara berbeda, bahwa… emang gue belum punya dasar2 fisika yang kuat! Udah sadar begitu, harusnya belajar, malah ngefacebook, hi hi hi, betul-betul tak tahu diri:p.
Mari kita analisis satu per satu KK-KK yang cantik-cantik itu:
1. Yang-Sudah-Pasti-Dilewatkan-dengan- Ilmu-Yang-Sekarang-Ini: KK Material, apa pun bentuknya, mau fotonik kek, magnetik kek, nanotechnology kek, lewaattt. Dari bau2nya aja gue udah bisa merasakan pahitnya tetrametilklorida bercampur mesiu, segala macam pembangkit memori kimia yang menyedihkan di TPB(seperti kita tahu, kimia dan metadeklug adalah dua polaritas yang saling tolak menolak bila dicoba disatukan dalam waktu yang singkat… ). Di TPB aja gue udah mabok dikasih kimia dasar, lahh ini yang advanced…
2. Fisika Bumi. Katanya sih lumayan aplikatif dan banyak proyeknya, di masa depan kan gue jadi bisa kerja di Sclumberger favorit gue itu(meskipun hanya suka namanya saja, ha ha ha). Tapi masalahnya, mama sudah memberikan sinyal2 bahwa gue sebaiknya kerja di ruangan, bukan di lapangan. Kalau gue ngerjain bagian komputasinya, mungkin bisa, tapi sejujurnya gue tidak terlalu suka dengan pengolahan hasil bumi.
3. Nuklir? Capee dehh. Meskipun gue pendukung pembangunan reaktor di Muria, it’s not my game. Males aja kalo berurusan, lagi-lagi, sama betavoltaics, PN junction, dan kawan-kawan.
Yang jadi kandidat terkuat adalah KK FTETI dan Biofisika.
(Mendadak gue jadi merasa dua KK ini saling berhubungan)
-KK FTETI, geometrinya bikin merana. Dan gue kemungkinan besar masih akan bermental polos cerdik(polos cerdik kok takut ma geometri), sehingga akan tertipu sama trik-trik aljabarnya. Meskipun demikian kekerenannya makes it worth it untuk diperjuangkan, dan lagi gue sudah punya ide untuk digarap di bidang ini, yang mana kata si uda sihh sangat teoretik… Yahh boleh lahh gue narsis dikit di sini… toh yang menemukan persamaan double helix dan yang ngerjain protein folding juga orang teoretik… masa sih ide gue gak bisa diteoretikkan juga…
-KK Biofisika, yang berhubungan banyak dengan bidang kedokteran ini bisa bikin papa senang dan lagi kayanya gak terlalu susah kaya teori, he he he, soalnya lebih kongkrit(itu pendapat gue yang sangat awam ini lhoo). ‘Mereka’ aja bisa dapet 80 an tiap kali ujian, berarti bagus buat ningkatin IP kalau gue ambil mata kuliah yang terasa gampang itu, hi hi hi. Tapi gue nggak bisa meremehkan bidang ini juga karena bagaimanapun mereka pasti juga bermain-main dengan kimia. Kalo biologi gue masih tahan, tapi kalau kimia gue faul.
Gue tahu bahwa hanya Allah yang tahu yang mana yang baik buat gue. Gue akan shalat tahajud dan Dhuha yang rajin biar semua schwirigkeitundfaulkeit yang menyebalkan ini teratasi, biar dapet petunjuk gue sebaiknya ngambil KK apa.
No lunch is free… yang penting maju terus, toh semua juga punya schwirigkeitundfaulkeit-nya masing-masing.
Even if it’s literature.