Rindu Alam

May 26, 2009 at 10:16 pm (pengalaman)

Hm. Ini bukan sedang promosi restoran dengan nama yang sama di Puncak.

Sebenarnya di hati kecil ini, ternyata saya sedang memendam kerinduan pada alam. Yeah, literally. Saya kangen kemping! Saya kangen untuk menghirup udara yang segar bersih dari polusi perkotaan. Ingin memandang hamparan rumput kehijauan di sekeliling saya sambil tidur-tiduran di atas tikar bambu ditemani sandwich dan jus jeruk(seperti waktu kecil dulu- sering piknik sekeluarga, cuma yang ada nasi balado bukan sandwich). Tapii… nggak pengen juga sih kalo harus tidur dalam tenda yang super dingin seperti waktu kemping bareng FMIPA 2007.

Sebenarnya sudah cukup terbiasa jalan-jalan ke alam. Dulu waktu masih SD, sering banget diajak Papa Mama jalan-jalan ke Tawangmangu. Sampe di sana kerjaannya duduk-duduk, makan sate kelinci(hm, itu di Tawangmangu apa Batu Raden ya?), dan naik kuda. Akibatnya setiap akhir pekan merengek-rengek terus minta ke sana karena ketagihan naik kuda. Pernah lhoo waku ke sana sama Bang Firdaus, sepupu, kami yang masih anak-anak itu dilepas naik kuda sendiri sama mang-mangnya. Rasanya asyik banget, berasa jadi mandiri gitu, hi hi hi. Padahal kudanya aja yang udah jinak dan udah ngerti jalur perjalanan.

Pas SD juga pertama kalinya bisa pergi kemping. Tapi itu juga acara wajib karena ikut pramuka. Pertama kalinya kemping itu, biar cuma tiga hari, ternyata pada malam pertama menginap aja udah stres. Soalnya kamar mandinya jelek banget. Pada kemah kedua dan ketiga, udah terbiasa. Ternyata kuncinya kemah-kemah macem ini adalah siap mental aja. Jangan bawa banyak barang, dan nikmati saja kesederhanaan hidup yang cuma sementara sebobrok apapun keadaan kamar mandinyaa, ha ha.

Pas SMP, hajatan terbesar ke alam adalah sewaktu pengukuhan kenaikan tingkat ekskul Tae Kwon Do. Kami berjalan 25 km di Gunung Manglayang dan tidur di gubuk tua reyot milik seorang nenek-nenek. Dari perjalanan ini saya belajar satu hal: jangan kebanyakan minum deh kalo lagi jalan-jalan ke alam… alasannya? Rahasia, he he he… memalukan soalnya. Yang saya nikmati dari perjalanan kali ini haya waktu makan indomie malam-malam di bawah bintang-bintang. Untung cuacanya cerah. Nilai tambah plus lainnya, saya jadi siap mental kalo harus jalan jauh.

Pas SMA, kalau nggak salah dua kali ikut outbond, dua-duanya acara DKM. Yang satu ke Kawah Putih, yang satu lagi lupa ke mana. Tapi saya nggak pernah jadi panitia, males survey. Perjalanan di Kawah Putih ini cukup konyol. Tujuan kita adalah kawahnya, dan sudah ada jalan bagus sejauh 100 meter ke kawah itu. Tapi karena judulnya outbond, panitia memaksa peserta mangambil jalan memutar dan menanjak untuk sampai ke sana. Yang paling tidak saya suka adalah keterpaksaan shalat yang tidak bersih. Padahal kan kami anak DKM, tapi kok yaa waktu dan tempat shalatnya kayanya kurang diperhatikan.

Pas kuliah, ternyata dapat rejeki sekali kemping dan sekali outbond di tingkat satu. Yang kemping adalah dalam rangka silaturrahmi keluarga besar FMIPA 2007. Yang outbond adalah karena ikutan workshop KK Fisika Bumi. Di acara yang kedua, kami sempat nyasar karena akang pemandunya salah ambil jalan. Tapi mata dan hati terpuaskan karena kami kami melewati pemandangan kebun teh yang baguus banget.

Nah… di liburan kali ini, sebenarnya ada lagi kemping se-mahasiswa kampus. Tapi males ikut soalnya pakai nginep-nginep segala. Serindu-rindunya pada alam, yang saya sukai adalah kegiatan piknik biasa yang ada kamar mandi bagusnya dan makanan enak yang disiapkan on purpose. Hmm, kayanya saya mau main ke pantai aja di Yogya dan makan lobster. Moga-moga bisa kesampaian di liburan kali ini.

Post a Comment