Rencana Terindah

June 6, 2009 at 9:06 am (projects)

Dia sering sekali memandang segala sesuatu dari sisi yang terburuk. Dan kata-kata itu… semakin membuatnya merasa yakin, untuk setiap hari, setiap saat, untuk tetap pada pendirian seperti itu.

Dia baru saja membuka blog itu, salah satu hal yang biasa dilakukannya secara rutin hampir setiap hari. Kata-kata yang sama yang dibacanya berulang-ulang itu, deretan postingan yang tidak bertambah karena si pemilik tidak pernah punya cukup waktu untuk mengisinya dengan tulisan baru- dia tahu, sering kali karena si pemilik terlalu sibuk bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari- entah kenapa- tidak pernah membuatnya merasa bosan untuk membacanya.

Dia paling menyukai kata-kata ini dalam blog itu: kenyataan bahwa

sesungguhnya tawa beralaskan tangis yang melapuk dan tangis beralaskan tawa usang di masa lalu.

Dia sedang lelah. Dia sudah capai menjalani hal yang sama selama bertahun-tahun. Dan mungkin inilah saat-saat kulminasi dari perasaan tertekan itu, saat dia akhirnya bertengkar… untuk yang kesekian kalinya. Dengan Rajanya sendiri.

Dia menghela napas panjang. Di luar gelap, namun ironisnya alam tak mau berkompromi dengan suasana hatinya saat ini. Dia selalu suka membayangkan bahwa setiap kali dia menangis(lagi), seharusnya tidak ada ‘pesta’ dalam bentuk seperti ini. Seharusnya yang ada adalah petir yang menyambar-nyambar seakan-akan memuntahkan kemarahan langit … sehingga dia bisa ikut berteriak-teriak histeris bersama halilintar itu, menumpahkan kefrustasian dan kemarahan yang dirasakannya. Bukannya langit dengan bintang yang berkelap-kelip dengan imutnya itu, seolah-olah mengajaknya bercanda sambil berkata, ‘Hey, ayolah, lupakan duka dan murkamu!’. Bukannya angin sepoi-sepoi yang ramah seperti ini yang ingin dirasakannya sekarang. Seharusnya awan meluluh menjadi air… berlinang-linang ke bawah seperti air matanya saat ini, menggambarkan dan menceritakan pada dunia betapa pilu hatinya.

Jika memang semuanya hanyalah siklus yang terjadi secara bergantian… tawa yang selalu berganti dengan duka, dan sedih yang selalu berganti dengan kegembiraan… lantas, untuk apa kita harus terlalu menghayati semuanya? Mengapa kita harus terlalu menghayati yang namanya hidup ini? Tak bisakah kita beristirahat sejenak, dan melupakan saja apa yang terjadi? Dia sadar, mungkin yang dirasakannya adalah trauma karena hatinya yang selalu dibolak-balikkan antara perasaan miris dan bahagia, antara cinta dan benci, antara kemunafikan dan kekonsistenan niat.

Dan kali ini dia merasakan bahwa mungkin inilah salah satu titik ternadir dalam hidupnya sejauh ini… dan mungkin, tak akan ada lagi jalan untuk kembali.

Dia menyesal karena sempat menyerahkan seluruh hatinya pada laki-laki itu. Mengapa tidak diikutinya saja saran Ma dan Pa, untuk selalu mencadangkan 5% ruang kosong di hatinya untuk perasaan netral?

Tapi, pekiknya dalam hati, mencari pembelaan, aku kan tidak pernah tidak memandang segala sesuatu dari sisi terburuknya! Tidakkah itu cukup? Mengapa tidak boleh kuserahkan saja sluruh hatiku sambil terus bersiap untuk kemungkinan terburuk?

…Sekarang dia tahu betapa sakitnya… jika kita sangat mencintai sesuatu dan sesuatu itu memilih meninggalkan kita.

Dia sudah terbayang plot yang akan terjadi sesudah ini. Tidak, tak akan ada lagi permohonan maaf dari Sang Raja sebagai tanda mengalahnya laki-laki itu pada dirinya, karena masih mencintainya. Dia tahu dia sudah kelewat kekanak-kanakan kali ini, tak akan ada seorang pun yang tahan dengannya. Oh, betapa dia takut saat-saat seperti ini akan datang! Akhirnya dia akan selalu sendirian dan tak dipedulikan. Karena ia terlalu malas untuk mempedulikan.

Untuk apa? rutuknya dalam hati. Untuk suatu saat dicampakkan lagi seperti ini, untuk suatu saat ditinggalkan lagi padahal kita sudah memberikan seluruh usaha yang kita punya?

Suara-suara menggema dalam kepalanya, dan dia kembali… menangis. Sejadi-jadinya.

Kriiing!!

… Sampai akhirnya telepon genggamnya berbunyi… dengan menampilkan nama yang diharap-harapkannya itu di layar!

Dia hampir tak percaya saat tenyata dia masih lolos dari kemungkinan terburuk itu sekali lagi. Sang Rajalah yang justru meminta untuk kembali kepadanya…

Di antara berbagai macam skenario terburuk yang berseliweran di kepalanya, ternyata yang dialaminya justru yang terbaik.

Mereka akan bersama lagi.

Oh Allah, bisiknya dalam hati,

tolonglah… berikan selalu rencana terindah-Mu padaku seperti hari ini.

[ya ampun makin dibaca makin cheesy saja...

anyway, love u, honey!:) ]

Post a Comment