Reuni SD

June 12, 2009 at 4:56 am (pengalaman)

Enam tahun tentu bukan waktu yang sebentar untuk dilalui bersama-sama, apalagi untuk dimensi pikiran anak-anak usia maksimal 12-13 tahun.
Dan 6 tahun berikutnya, saat ada kesempatan untuk bertemu kembali dengan kawan-kawan seperjuangan masa SD, wowww menakjubkan melihat kemajuan-kemajuan kami:).
Teman SD saya berjumlah 49 orang. Tapi yang bisa terlacak jejaknya baru 15-an orang. Atau bahkan kurang. Tak percaya rasanya, bisa melupakan nama-nama lengkap mereka padahal dulu otak ini sempat sombong karena merasa tak akan lupa(maklum, enam tahun bersama di kelas yang sama tentu kepala sudah terbiasa menghafal nama tiap anak).
SD saya terletak di daerah kotamadya Yogyakarta. Dulu dia terbagi dua, SD Jetisharjo I dan II. Sekarang sudah dimerger, dan lumayan banyaak sekali perubahan yang terjadi.Terakhir kali ke sana, mushola bagian bawah yang dulunya ruang apaa gitu, sudah berubah menjadi perpustakaan yang menyadarkan saya betapa beratnya buku-buku bacaan yang harus dilahap oleh anak-anak SD Indonesia di masa kini.
Sejak kelas satu sampai kelas 5, kalau tidak salah kira-kira ada 40-an total murid di kelas kami yang secara konstan selalu bersama-sama. Baru pada kelas 6 kelas dibagi 2, kelas 6A dan 6B, dengan tambahan beberapa orang lagi yang menggenapi kelas jadi mempunyai pas 50 anak.
Kalau diingat-ingat, masa SD itu benar-benar penuh warna yaa, he he he:). Ternyata sejak kecil saya sudah punya bakat konspiratif. Jadi, ceritanya, di masa itu saya masih merasa tidak cantik dan sering sekali minder dan menggolongkan diri ke dalam anak-anak yang kuper atau nerd. Nah, dalam perspektif saya di masa itu, ada hierarki yang telah terbentuk di kalangan pergaulan murid wanita. Yang satu adalah kelompok anak-anak gaul, cantik, dan supel yang merupakan sentra perjodohan dan gosip angkatan, dan yang satu lagi adalah kelompok anak-anak yang lebih laid-back dan cenderung masih polos. Ada juga sihh anak-anak yang saya kategorikan kelompok netral; tidak begitu laid-back tapi juga tidak begitu dinamis dalam bergosip, hi hi hi.

Nah, kebetulan waktu itu saya sebagai si nerd(maybe the one and only), merasa iri dengan kelompok hierarki pertama, yang kemudian saya sebut geng Menindivi, hmm atau Menindifi, saya juga lupa, ha ha ha… yang merupakan singkatan dari Meli, Ninsya, Dian, Diah, Dinda, Fitri, aduuh siapa lagii yaa saya lupa… yang kemudian saya hembuskan angin provokasi bahwa merekalah The Bad Girls yang mengganggu ketentraman pergaulan murid wanita di kelas. Padahal, saya cuma iri karena mereka tidak pernah berbagi cerita atau gosip dengan saya, dan karenanya saya merasa selalu dimanfaatkan terutama dalam soal pelajaran(hak hak hak GR sekalii!). Padahal, kenyataannya mereka itu bahkan lebih pintar dari saya dalam soal matematika!
Lucunya(yahh meskipun menurut pendapat saya saja waktu itu),anak-anak dari kelompok hierarki yang lain terprovokasi juga mendengar hasutan saya waktu itu. Ya ampuun politik saya waktu itu jahat sekalii yaa:(.
Akhirnya kelompok Menindivi tahu kalo sayalah provokatornya. Digencet rame-rame deh, he he he. Kalo ga salah itu tuh satu bulan selama masa ujian kelulusan SD, nggak ada satu orang pun di kelas yang mau ngobrol sama saya kecuali Mbak Daniar(apa kabar, Mbak?:)). Guru-guru yang waktu itu kasihan melihat saya dikucilkan mencoba mendamaikan, dan saya malah mengarang-ngarang cerita sendiri tentang kakak sepupu khayalan saya yang saya benci yang saya juluki Menindivi, dan bahwa saya hanyalah korban kesalahpahaman geng Menindivi(bingung? Well, jadi intinya, saya mengarang-ngarang cerita bahwa geng Menindivi itu salah paham dengan mengira bahwa merekalah yang saya benci) … tak ada satu pun guru yang paham mengapa saya bercerita hal yang demikian membingungkan seperti itu(ehm, tampaknya), dan memaksa kami semua berdamaian. Hm… kayanya saya tetap jadi anak emas para guru deh, kyaa ha ha…
Dan sekarang, setelah waoowww berapa lama yaa sejak kami bermusuh2an seperti itu dan akhirnya berteman lagi, perlahan-lahan kami saling bertemu kembalii:). Wah, ternyata mereka semua sukses-sukses. Diah dan Dian, si dua sejoli, masing-masing bakal jadi ahli biologi dan hukum yang hebat. Meli si cantik ternyata jadi kakak angkatan saya. Ita, salah seorang yang saya anggap hierarki laid back, ternyata sudah melanglangbuana ke Eropa dan somehow I’m connected with her dengan teman-teman SMA saya di Bandung karena mereka sama-sama ikut AFS. Mbak Daniar juga akan jadi seorang insinyur kimia yang hebat.
Yang bikin saya sangat senang, si Dinda… ternyata dia juga belajar Fisika kaya sayaa! Wah, saya nggak sabar lagi untuk bisa ketemuan dengan mereka saat reuni suatu hari nanti.
Kapan ya?

Post a Comment