Midyear Contemplation
Ini adalah jalan sepi, dan karenanyalah dia menjadi begitu unik.
(Muhammad Fakhrul Rozi A., 2009)
Tak terasa sudah hampir… 21 tahun berada di sini. Kurang lebih 40 hari-an lagi, genaplah angka itu sudah.
Dulu betapa setiap hari serasa bagai penjara. Tawa (yang ditampilkan) tak pernah bisa menjadi obat bagi duka yang (sempat) dirasakan, yang ada hanyalah jambangan. Jambangan kesedihan.
Namun kejayaan sedikit demi sedikit masih bisa membayangi. Nilai lumayan, piala bertaburan. Setelah tiga tahun, menyongsong masa SMA dengan bersemangat.
Di SMA hidup mulai menampakkan warnanya. Meski masih dirasanya, ada yang hambar. Perasaan yang anehnya, tak kunjung hilang.
Di tanah orang merdeka, hidup tak pernah lagi sama. Akhirnya dia mulai tahu bahwa kesetimbangan yang dicapai sebuah sistem memang hanya memerlukan energi seminimum mungkin, untuk dapat dikatakan bahwa mencapai hal seperti itu mudah.
Untuk mencapai kesetimbangan di level yang lebih tinggi tidak mudah. Dengan terseok-seok dikejarnya harapan itu, meski hampir buta seluruh indranya, memilih untuk tetap percaya.
Bahwa keajaiban itu niscaya.
… Dan akhirnya, Ramadhan 2009 menyapanya. Di jalan sepi.
Harapan dan target yang muncul adalah
bahwa semoga apa yang direncanakannya tercapai dengan sukses. Amin.
Kesetimbangan
Sedang butuh kesetimbangan. Saya percaya, bahwa kesetimbangan ini harus dicapai oleh diri sendiri dulu dan baru kita akan bisa berinteraksi sosial dengan baik dengan sistem di luar diri kita. Kita lihat saja nanti… ke mana nasib ini akan dijalankan. Sungguh, sampai sekarang saya bisa ada di sini-untuk bisa melihat ke sisi positifnya saja- sudah merupakan suatu keajaiban dan rahmat yang luar biasa. Meskipun getir, saya memilih untuk percaya saja bahwa hanya Allah tempat saya bergantung, dan Dia pula yang akan memelihara saya dalam keadaan apa pun. Saya hanya butuh Dia.
Hikmahnya, saya jadi punya banyaak ide(yaay!:)). Semoga bisa dijadikan cadangan senjata untuk menghadapi saat-saat terburuk yang suatu saat bisa saja datang itu.
Review hari ini… baru saja baca cerpennya femina yang dibawa mama dari Semarang. Jadi, dia adalah seorang istri yang ingin sekali punya anak tapi setelah bertahun-tahun menikah tak juga punya momongan yang sangat didambakan itu. Akhirnya ia hamil juga, tapi anak yang dikandungnya itu ternyata adalah anak selingkuhannya. Selingkuhannya ini juga telah menikah dan sudah punya anak. Akhirnya tokoh utama kita memutuskan untuk tidak menuntut tanggung jawab selingkuhannya maupun kembali pada suaminya, dia memutuskan membesarkan anak itu seorang diri. Salah satu cerpen yang berkesan di hati saya. Dan semakin menanamkan tips pada diri sendiri: buatlah cerita seseorang yang kuat supaya naskah kita diterima untuk diterbitkan:).
Deeply in Love On Thursday
I was deeply in love this very Thursday. Deeply in love in, pretty much everything. Myself. My life. My weaknesses.
And it’s all somewhat like a bunch of inspiration resulted from an accumulated boredom of stagnancy.
If even she has to struggle to make herself happy, why must I stop in despair?
I sincerely hope that the spirit won’t fade away
Dulu
Dulu pernah seseorang bertanya padaku mengapa dia merasa sedih.
Yah, saya cuma mengajaknya berpikir realistis.
Mungkin, yang terbaik adalah,
maafkan saja…
dan lupakan.
Heart Realm Intersection
Membaca karya-karya Naoko Takeuchi, seperti menemukan mozaik dunia lain. Dunia mimpi yang penuh keajaiban. Dunia tempat impian setiap gadis kecil ada… coklat, permen, pangeran tampan, dan kecantikan abadi.
Saya selalu suka membayangkan dunia yang utopis. Keutopisan identik dengan perfeksionisme dan impian-impian besar.
IMPIAN-IMPIAN
BESAR
Amerika… Eropa… My very own Best seller writings… New England.
Banyak orang yang enggan berandai-andai. Banyak orang yang takut untuk sekedar bermimpi dan berani speak-up mimpi mereka itu.
Dalam Kebimbangan…
Yang namanya hidup, pasti ada resikonya.
Jika kita memang ingin yang terbaik, biasanya resikonya juga besar…
…
Baiklah,
sudah diputuskan…
memang sebaiknya dia didorong ke dunia yang lebih besar saja…
Cahaya di Balik Jendela
Apa yang membuat tulisan-tulisan Dewi Lestari begitu digemari?
Mengapa tulisannya Ninit Yunita bisa sukses padahal biasa2 aja?
Dan mengapa gue tetap membenci tulisan2 gue sendiri walaupun karakternya semeledak2 Adhitya Mulya?
Cahaya di balik jendela yang samar2 tertutup oleh tirai, mungkin tak semua orang akan berpendapat sama tentang bagaimana cara memandangnya.
Ada yang melihat bayangan hitam di baliknya- cahaya putih yang seharusnya menerangi ruangan tak dipedulikan, dibiarkan meremangi ruangan- sengaja pula mungkin, karena dia lebih suka suasana seperti itu.
Yang tidak baik adalah membiarkan rasa malas itu menguasai… jika memang kita bisa melihat lebih jelas ruangan itu dalam keterangan daripada dalam keremangan, mengapa malas untuk sekedar menyibak tirai dan membiarkan cahaya itu masuk?
Jika memang kita bisa melihat pemandangan yang indah di luar sana sekaligus menghirup udara nyata di luar jendela, mengapa enggan untuk sekedar menyibak tirainya dan membiarkan cahaya itu masuk?
Dalam menulis, gue rasa, kita perlu mencintai kehidupan… we need to celebrate the festive life, dengan niat berbagi ide kita dengan semua orang, tentang kehidupan ini. Bagaimana kita bisa menertawakan kegetiran yang kita alami ala Adhitya Mulya. Bagaimana kita bisa menikmati sains fisika yang rumit dengan rasa pop seperti Dewi Lestari(hi hi hi ini mah penyemangat untuk para mahasiswa sains:p). Bagaimana kita bisa dengan sabar menuliskan bab demi bab episode seorang wanita yang tak kunjung mempunyai anak dan akhirnya mendapati suaminya mandul seperti Ninit Yunita.
Dari Dewi Lestari, saya merasakan sensasi spiritual yang luar biasa.
Dari novel-novel Adhitya Mulya, saya merasakan semangat untuk survive yang hebat, bercampur dengan perasaan terhibur dengan komedi sarkas yang asyik.
Dari Ninit Yunita, saya berpikir betapa sederhananya selera baca masyarakat Indonesia, sehingga novelnya bisa laku keras. Namun saya akui, pesan moral di dalamnya tidak biasa. Dan saya jadi pede untuk mulai menulis hal-hal sederhana karena pasti di Indonesia ini ada yang mau baca.
Karya-karya itu digemari pembaca karena mereka merayakan kehidupan. Penulis-penulisnya mencintai kehidupan dan bersemangat menjalaninya, sehingga semangat itu tertular pada para pembaca. Sungguh suatu proses propagasi yang menarik untuk dirasakan bersama. Menarik, mempesona, menginspirasi.
Sehingga gue berjanji pada diri sendiri untuk lebih mencintai kehidupan ini.
Lebih banyak bersyukur, sehingga punya kekuatan untuk menyibak tirai itu. Merasakan hangatnya cahaya dari baliknya. Menyadari dan mengagumi keindahan pemandangan di luar sangkar gue, meskipun gue hanya bisa memandang saja dari dalam, belum bisa berbuat banyak keluar. Menyadari betapa cantik ruangan tempat gue tinggal bila dilihat dengan keterangan cahaya, melihat dengan jelas manfaatnya bahwa kuman2 pun bisa mati otomatis saat terkena radiasinya dan…
menggapai ketenaran itu, glory itu… saat gue sudah bisa berbagi tentang hidup dengan hati yang jernih bersama para pembaca gue.
Suatu hari nanti. Pasti.
Confession #~
Jatuh cinta, akhirnya, pada hidup dan kehidupan. Meski terkadang pahit, namun manis yang terasa sesudah itu terasa lebih indah saat dikenang. Atau untuk dikenang.
Kurasakan kesakralan yang terasa makin langka dari dunia sekelilingku. Kutemukan lagi si pemantik api, dia yang mendobrak pintu kedataran, mencoba menarikku keluar dari titik minus jurang kejenuhan ini. Tahu bahwa seharusnya aku bersyukur. Tahu bahwa yang terluka semata batin ini, yang patah hati, yang manja karena tak kunjung yang terkasih membalas ekspresi cinta. Posesif, destruktif; dan hanya tak peduli bahwa cara itu salah.
Tetapi dia tetap datang, menyuburkan harapan itu. Meski diri ini tetap merasa tergantung- tidak, akar masalah itu masih belum terselesaikan!
…Dan masih saja rasa takut itu membayangi. Bayangan akan pengkhianatan. Cemburu. Bosan. Semua jadi satu, semua jadi begitu… fluktuatif(untuk tidak mengatakan, begeistern).
Narsis Ria
… Adalah hal yang penting untuk menjadi seorang yang narsis(asal ga berlebihan aja).
Terbukti kenarsisan bisa membuat gue survive dan bertahan hidup sejauh ini(hi hi hi): tinggal, belajar, dan alhamdulillah… hidup, di tempat-tempat yang gue inginkan.
Celebrate your life by being narciss…
Life is a box of chocolate, kata Forrest Gump. Elo ga bisa main tebak-tebakan sama yang namanya hidup, kata Dewi Lestari.
Dan percayalah, God is good. Ini bukan sekedar kata-kata saktinya si Oprah, ini kenyataan. Dan gue secara ajaib mengalami perjalanan hidup yang sangat wonderful, believe it or not- nyaris dengan begitu mudah dan lancarnya!
Dan kenarsisan gue sedikit banyak membantu tuh.
Gue lahir 20 tahun yang lalu, di Yogyakarta. Mata gue sipit, hidung gue lumayan mancung, dan percayalah. Gue dulu termasuk putih lho. Sekarang aja gue ngeitemin, gara-gara sekolah di kampus ini…
Gue curiga bahwa gue punya keturunan Turki, atau Arab, paling enggak China lah, berhubung mata gue sipit, kaya punya mama gue. Dan papa gue punya hidung yang mancung mulai dari papanya ampe kakak-kakaknya, semuanya berhidung mancung. Persis orang Arab.Hi hi hi… bangga amat yak punya darah keturunan… Abis sejauh mata memandang, ga pernah tuh dalam sejarah ada darah Indonesia mengukir sejarah. Bukannya gue rasis lho ya… let’s just face the reality… Tapi gue tetep bangga kok berkewarganegaraan Indonesia. Dan gue SANGAT bersyukur dilahirkan sebagai seorang muslimah di tanah Jawa loh jinawi ini.
Dari kecil, gue selalu dijaga oleh Allah SWT dengan perasaan ini: gue istimewa. Gue selalu percaya bahwa Allah akan selalu membuat kejutan-kejutan dan loncatan-loncatan tak terduga dalam hidup gue. Seperti setengah bagian kurva parabola dengan x lebih besar dari nol di kuadran 1, eksponensial dan terus naik walau perlahan-lahan! Entah gimana ceritanya tuh ya, anak umur 7 tahunan udah bisa membayangkan peta maya kehidupannya dalam otaknya sendiri, suatu kegiatan menghibur diri yang gue selalu lakukan sejak kecil dalam bentuk khayalan. Gue percaya bahwa suatu hari nanti keluarga gue(yang gue percaya tidak ditakdirkan jadi keluarga biasa ini) akan pindah ke Bandung, kota impian gue. Gue percaya bahwa gue bisa keliling dunia suatu hari nanti. Gue percaya bahwa gue akan melompati jenjang-jenjang pendidikan elit negeri ini, berteman dengan calon-calon pemimpin bangsa. Gue percaya bahwa gue tidak ditakdirkan memiliki hidup rata-rata anak Indonesia. Gue konstan berdoa dan berdoa, memanjatkan segala impian gue itu kepada Allah SWT.
Dan tahu nggak sih…
Umur gue 12 tahun, gue bener-bener pindah ke Bandung. Gue sekolah di SMP X dan SMA Y, dua-duanya sekolah elit kota ini(hi hi hi narsis lagi). Gue kenal banyak orang pintar, orang baik, orang-orang yang kayanya sih juga punya takdir yang unik-unik. Umur 18 tahun, gue bisa menginjakkan kaki di Amerika Serikat. Tenyata gue sudah mengelilingi setengah bumi ini. Gue juga sudah menginjakkan kaki di Afrika(Mesir), Asia Timur(Taiwan), Timur Tengah (Qatar dan Arab Saudi), Singapura, dan Malaysia. Lumayan kan buat orang yang nggak punya modal apa-apa, tapi sudah pernah ke semua tempat itu? Gue sangat mensyukuri semua keberuntungan yang telah gue dapatkan. Alhamdulillah… banget.
Back to narsis, itulah keuntungannya menjadi orang narsis, hi hi hi.
Kalau boleh gue berpendapat, kalau dikaji dari segi agama sih apa yang gue lakukan itu adalah berhusnuzhan pada Allah SWT. Wuih, dahsyat akibatnya… makanya syukurilah apa yang sudah kita dapatkan dalam hidup, kembangkan itu semua dengan doa. Manusia memang beruntung, segala hal kecil yang dilakukannya, asal dilakukan dengan sungguh-sungguh, ternyata bisa bermanfaat bagi dirinya. Bernarsis ria pun, kalau dilakukan dengan benar, ternyata membawa efek positif yang tak terpikir dengan logika.
Hmm. Kira-kira segitu aja sih pelajaran yang gue ambil hari ini. Mau UTS fisika nih… dan ternyata yang terenungkan dalam pikiran gue adalah perjalanan hidup gue 20 tahun pertama ini, instead of GGL imbas dan kawan-kawan, he he he…
Tak apa… dasar sesungguhnya dari semua cabang ilmu adalah filsafat, dan gue percaya bahwa dengan meresapi filsafat kehidupan ini secara kualitatif (meresapi dan mensyukuri apa yang sudah lewati dalam hidup gue), gue akan dengan mudah dapat menjabarkannya secara kuantitatif(UTS Fisika). Kan gue juga nggak bodoh-bodoh amat. Semoga dengan kenarsisan gue yang kali ini, gue bisa juga melewati UTS Fisika yang menantang itu, ho ho ho.
Ke Mana Perginya Waktu?
Waktu tidur. Ha ha.
I used to be really enjoying weekend, di mana saya bisa tidur dan menikmati kesenangan duniawi sepuasnya.
There are times when I felt like the time was going so slow.
I wish I could kill time.
Tah sejak kapan rasanya jadwal semakin terstruktur dan lama-kelamaan semakin padat dan penuh… kayanya sejak saya memutuskan untuk mempunyai target-target dalam hidup. Maka terasa bahwa 24 jam itu tak pernah cukup untuk mengejar hal yang didamba.
Now I wish that time could go A LOT times slower.